A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

Bupati Magelang “ Membangun Menara Air Alam”

Widodo Anwari/Humas Protokol Bagian Humas dan Protokol

Kota Mungkid,

Dalam rangka mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan, Pemerintah Kabupaten Magelang “Membangun Menara Air Alam”. Seperti diketahui bersama Kabupaten Magelang dikelilingi lima gunung sebagai daerah tangkapan dan resapan air. Gerakan penanaman pohon, membuat sumur resapan, biopori dan bak penampung air hujan yang dilakukan oleh segenap elemen masyarakat merupakan contoh kegiatan membangun menara air. Yang tidak kalah penting dalam mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan adalah pengelolaan sampah.


Untuk kepedulian dan keberhasilan pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Magelang bersama masyarakat ini, pemerintah telah mengapresiasi dengan diperolehnya penghargaan Proklim Nasional dua tahun berturut turut yaitu Tahun 2014 LMDH Argo Wiropati Desa Ngrancah Kecamatan Grabag dan Tahun 2015 Desa Ngargomulyo Kecamatan Dukun. Untuk Tahun 2016, berkas usulan Proklim dari Kabupaten Magelang yaitu Dusun Madukoro II Desa  Madukoro Kecamatan Kajoran oleh BLH Provinsi Jawa Tengah telah dikirim ke KLHK.


Meraih Sertifikat Adipura,
Evaluasi terhadap hasil pemantauan Adipura yang lalu, Kota Muntilan berada pada ranking 32 diantara 35 kota di Jawa Tengah. Di banding penilaian sebelumnya, hasil penilaian saat ini sudah ada kenaikan satu tingkat, namun Bupati Mengharapkan agar selalu diupayakan agar terus meningkat.

“Saya berharap, pada Tahun 2017, Kota Muntilan dapat memperoleh “Sertifikat Adipura”. Untuk itu perlu komitmen kita bersama dalam membenahi Kota Muntilan ini. Dari sekian banyak parameter penilaian, point pengelolaan sampah, merupakan aspek yang nilainya masih rendah. Untuk itu, saya perintahkan, agar sampah dikelola dari tingkat rumah tangga dengan cara yang benar. Baik itu rumah tangga di rumah, sekolah, kantor, dan lain sebagainya.” Pinta Zaenal Arifin, SIP.

Dengan semangat bersama tersebut, Alhamdulillah tidak Tahun 2017, tetapi Tahun 2015 telah memperoleh Sertifikat Adipura Kota Muntilan. Gebrakan tersebut telah bersambut dengan dilakukannya pencanangan Bank Sampah se Kabupaten Magelang hari ini.

Lounching Bank Sampah,
Menyikapi  Banyaknya sampah yang ada di Kabupaten Magelang, Bupati Magelang mengatakan bahwa Kabupaten Magelang dinyatakan Darurat Sampah. Akibat produksi sampah banyak tersebut, pengelolaan sampah dengan sistem kumpul-angkut-buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah tidak mampu menampung.

Sehingga berdampak pada masyarakat yang melakukan pembakaran sampah rumah tangga sendiri, dan eksesnya meningkatnya pencemaran udara dan mengganggu kesehatan masyarakat.

Dalam apel Peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia di Lapangan drh Soepardi, Minggu (29/5), Bupati Magelang Zaenal Arifin mencanangkan bank sampah sebagai model pengelolaan sampah terbaru di daerah itu.

Bank sampah dianggap sebagai pilihan dan inovasi, untuk mengurangi sampah dan menghidupkan sektor ekonomi masyarakat, dengan memberdayakan masyarakat melakukan gerakan 5M. Yakni Mengurangi Sampah, Memilah Sampah, Memanfaatkan Sampah, Mendaur Ulang Sampah, dan Menabung Sampah. Kegiatan mendaur ulang sampah menjadi produk bernilai ekonomi.

Kabupaten Magelang sudah dapat dikatakan darurat sampah dan harus segera ditangani. Ditandaskan juga oleh Bupati Magelang Zaenal Arifin, SIP bahwa Fakta tentang sampah nasional pun sudah cukup meresahkan, yaitu bahwa Indonesia adalah peringkat kedua di dunia penghasil sampah plastik ke Laut setelah Tiongkok. 

“Berdasarkan kajian Pemerintah Kabupaten Magelang tahun 2015, rata-rata jumlah sampah yang dihasilkan per orang dewasa adalah 0,5 kg/hari, sedangkan jumlah total penduduk kabupaten Magelang diperkirakan sebesar 1,2 juta jiwa, maka jumlah sampah yang dihasilkan sebesar 600.000 kg/hari atau 600 ton sampah/hari,” Ujarnya.

Jumlah sampah tersebut paling banyak disumbangkan oleh sampah rumah tangga. Oleh karena itu untuk mengurangi timbulan sampah yang lebih besar lagi, diperlukan strategi yang tepat  untuk menghindari dampak sosial maupun lingkungan yang lebih besar akibat sampah.

Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi musibah. Sebaliknya jika dikelola dengan tepat, sampah yang tadinya menjadi masalah bahkan musibah dapat diubah menjadi berkah.

“Saat ini masyarakat sudah mulai muncul kepedulian terhadap permasalahan sampah dengan cara memanfaatkannya. Oleh karena itu paradigma yang harus ditumbuhkan dalam masyarakat saat ini adalah sampah mau dijadikan apa, bukan sampah mau dibuang ke mana. Yang harus dilakukan adalah bagaimana sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dengan menerapkan konsep 3R (Reuse, Reduce, Recycle).” Tandas Bupati Magelang.

Momentum Peringatan Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia Tahun 2016 ini akan menjadi Launching Program Bank Sampah Se-Kabupaten Magelang. Jumlah total Bank Sampah di Kabupaten Magelang sebanyak 122 Kelompok yang tersebar di 21 Kecamatan.

Diharapkan di tiap Desa/Kelurahan terdapat minimal 1 bank sampah dan Kecamatan dapat mendukung terbentuknya Bank Sampah serta BLH Kabupaten Magelang dapat memberikan pengarahan dan pendampingannya.**) Widodo Anwari/ Humas Protokol setda Kabupaten Magelang.