A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

Candi Borobudur merupakan salah satu simpul ekonomi di wilayah Kabupaten Magelang

WIDODO ANWARI Bagian Humas dan Protokol

Guna mengurangi resiko terjadinya bencana alam, utamanya di wilayah Kabupaten Magelang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat menggelar simulasi penanggulangan bencana 2018 terkait erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, Selasa (25/9/2018). Kepala Pusdiklat BNPB, Agus Wibowo, menjelaskan bahwa, kegiatan ini merupakan pelatihan atau simulasi dengan tujuan utamanya untuk mendukung program pengembangan pariwisata pemerintah.

"Jadi pemerintah sudah menetapkan 4 Top prioritas destinasi pariwisata di Indonesia, yakni Borobudur, Toba, Mandalika, dan Pelabuhan Bajo. Namun demikian, karena ada keterbatasan anggaran, maka kita hanya melakukan kegiatan tersebut di tiga tempat, yakni Borobudur, Toba, dan Mandalika," ujar Agus di sela-sela kegiatan Simulasi Penanggulangan Bencana 2018, di Atria Hotel, Magelang.

Menjadi tujuan utama dilaksanakannya kegiatan tersebut di wilayah Kabupaten Magelang adalah untuk mempersiapkan bagaimana menangani jika terjadi erupsi Merapi dan dampaknya pada pariwisata di Kabupaten Magelang, yakni utamanya pada Candi Borobudur.

"Terutama bagaimana melindungi Candinya, dan yang paling penting lagi adalah bagaimana cara mengevakuasi serta menyelamatkan pariwisata apabila benar-benar terjadi erupsi. Dengan SoP yang baik, kiranya nantinya akan memberikan rasa aman kepada wisatawan yang sedang berkunjung di tempat pariwisata tersebut," terang Agus.

Terkait Kesiapan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang sejauh ini dalam menghadapi manakala terjadi erupsi Merapi, Kepala BPBD Kabupaten Magelang, Edi Susanto, mengatakan, untuk erupsi Gunung Merapi, pihaknya sudah memiliki dokumen kontigensi terkait erupsi tersebut.

"Jadi kita sudah mempersiapkan seandainya terjadi erupsi tersebut. Namun melalui simulasi inilah kita akan mempraktekan apa yang sudah kita persiapkan selama ini. Kemudian tim perancang dan tim penilai akan menilai apakah dokumen rancangan kontigensi yang sudah kami susun ini bisa dilaksanakan atau tidak," ujar Edi.

Menurut Edi, Keberadaan Candi Borobudur merupakan salah satu simpul ekonomi di wilayah Kabupaten Magelang. Sehingga mau tidak mau harus mampu menghadirkan rasa nyaman dan aman kepada wisatawan yang datang.

"Maka dari itu kami sangat antusias pada saat BNPB melaksanakan kegiatan ini. Sehingga harapan kami nantinya kesiapan masyarakat di sekitar Candi Borobudur juga menjadi lebih bagus," kata Edi.

Sedangkan Kepala Seksi Gunung Merapi, Agus Budi Santoso, dalam keterangannya mengatakan bahwa, kondisi Gunung Merapi sejak tanggal 12 Agustus 2018 sudah dinyatakan memasuki fase erupsi. Yang perlu dipahami oleh masyarakat, bahwa erupsi yang terjadi saat ini adalah erupsi efusif.

"Erupsi efusif adalah erupsi yang cukup jinak yang tidak seperti erupsi tahun 2010. Jadi masyarakat diharapkan untuk tetap melanjutkan aktivitas seperti biasa karena statusnya masih waspada," terang Agus.

Sejak munculnya kubah lava pada tanggal 21 Agustus kemarin, tambah Agus, kini terus bertumbuh dengan pertumbuhan yang tergolong sangat rendah.

 

"Jadi saat ini, laju pertumbuhannya pun dibawah 1000 Meter Kubik. Sementara dari tahun 1992 sampai 2006, bisa mencapai 20.000 Meter Kubik. Jadi laju tersebut memang sangat rendah. Melihat morfologi yang ada maka ancaman utamanya ke arah tenggara selatan, namun ada catatan kubah tersebut terjadi longsoran ke arah barat mengisi cekungan kawah tersebut," pungkas Agus.***) Widodo Anwari Humas dan Protokol Setda Kabupaten Magelang.

Guna mengurangi resiko terjadinya bencana alam, utamanya di wilayah Kabupaten Magelang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat menggelar simulasi penanggulangan bencana 2018 terkait erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, Selasa (25/9/2018).

Kepala Pusdiklat BNPB, Agus Wibowo, menjelaskan bahwa, kegiatan ini merupakan pelatihan atau simulasi dengan tujuan utamanya untuk mendukung program pengembangan pariwisata pemerintah.

"Jadi pemerintah sudah menetapkan 4 Top prioritas destinasi pariwisata di Indonesia, yakni Borobudur, Toba, Mandalika, dan Pelabuhan Bajo. Namun demikian, karena ada keterbatasan anggaran, maka kita hanya melakukan kegiatan tersebut di tiga tempat, yakni Borobudur, Toba, dan Mandalika," ujar Agus di sela-sela kegiatan Simulasi Penanggulangan Bencana 2018, di Atria Hotel, Magelang.

Menjadi tujuan utama dilaksanakannya kegiatan tersebut di wilayah Kabupaten Magelang adalah untuk mempersiapkan bagaimana menangani jika terjadi erupsi Merapi dan dampaknya pada pariwisata di Kabupaten Magelang, yakni utamanya pada Candi Borobudur.

"Terutama bagaimana melindungi Candinya, dan yang paling penting lagi adalah bagaimana cara mengevakuasi serta menyelamatkan pariwisata apabila benar-benar terjadi erupsi. Dengan SoP yang baik, kiranya nantinya akan memberikan rasa aman kepada wisatawan yang sedang berkunjung di tempat pariwisata tersebut," terang Agus.

Terkait Kesiapan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang sejauh ini dalam menghadapi manakala terjadi erupsi Merapi, Kepala BPBD Kabupaten Magelang, Edi Susanto, mengatakan, untuk erupsi Gunung Merapi, pihaknya sudah memiliki dokumen kontigensi terkait erupsi tersebut.

"Jadi kita sudah mempersiapkan seandainya terjadi erupsi tersebut. Namun melalui simulasi inilah kita akan mempraktekan apa yang sudah kita persiapkan selama ini. Kemudian tim perancang dan tim penilai akan menilai apakah dokumen rancangan kontigensi yang sudah kami susun ini bisa dilaksanakan atau tidak," ujar Edi.

Menurut Edi, Keberadaan Candi Borobudur merupakan salah satu simpul ekonomi di wilayah Kabupaten Magelang. Sehingga mau tidak mau harus mampu menghadirkan rasa nyaman dan aman kepada wisatawan yang datang.

"Maka dari itu kami sangat antusias pada saat BNPB melaksanakan kegiatan ini. Sehingga harapan kami nantinya kesiapan masyarakat di sekitar Candi Borobudur juga menjadi lebih bagus," kata Edi.

Sedangkan Kepala Seksi Gunung Merapi, Agus Budi Santoso, dalam keterangannya mengatakan bahwa, kondisi Gunung Merapi sejak tanggal 12 Agustus 2018 sudah dinyatakan memasuki fase erupsi. Yang perlu dipahami oleh masyarakat, bahwa erupsi yang terjadi saat ini adalah erupsi efusif.

"Erupsi efusif adalah erupsi yang cukup jinak yang tidak seperti erupsi tahun 2010. Jadi masyarakat diharapkan untuk tetap melanjutkan aktivitas seperti biasa karena statusnya masih waspada," terang Agus.

Sejak munculnya kubah lava pada tanggal 21 Agustus kemarin, tambah Agus, kini terus bertumbuh dengan pertumbuhan yang tergolong sangat rendah.

 "Jadi saat ini, laju pertumbuhannya pun dibawah 1000 Meter Kubik. Sementara dari tahun 1992 sampai 2006, bisa mencapai 20.000 Meter Kubik. Jadi laju tersebut memang sangat rendah. Melihat morfologi yang ada maka ancaman utamanya ke arah tenggara selatan, namun ada catatan kubah tersebut terjadi longsoran ke arah barat mengisi cekungan kawah tersebut," pungkas Agus.***) Widodo Anwari Humas dan Protokol Setda Kabupaten Magelang.