A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

Dr. M. Syukri, M.P.H.(Direktur RSUD Muntilan, Kab Magelang) “ Sampai Saat Ini Belum Ada Penyakit Difteri Yang dirujuk di RSUD Muntilan.

WIDODO ANWARI Bagian Humas dan Protokol

 Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.

Penyakit difteri adalah suatu penyakit yang sangat menular, disebabkan oleh bakteri gram positif Corynebacterium diphtheriae strain toksin namun dapat dicegah dengan pemberian imunisasi. Penyakit difteri ditandai dengan peradangan pada tempat infeksi, terutama pada daerah selaput mukosa faring/tekak, laring/pangkal tenggorokan, tonsil/amandel, hidung, dan juga pada kulit (94% kasus difteri mengenai tonsil dan faring). Demikian dikatakan oleh Dr. M. Syukri, MPH saat diwawancarai tertulis oleh Wartawan Suara Gemilang Widodo Anwari, beberapa hari yang lalu.  Bagaimana sebenarnya penyakit ini? Berikut petikan wawancara kami dengannya.

Bagaimana gejala-gejala penyakit Difteri ini?

Gejala difteri dirasakan sesuai dengan perjalan penyakitnya, awal seperti ISPA, nyeri tenggorok, nyeri menelan/ sulit menelan, dan gejala semakin berat sampai sesak nafas dan meninggal.

 

Terus penyebarannya bagaimana?

Penyebaran atau penularan terjadi secara droplet (percikan ludah) dari batuk, bersin, muntah, melalui alat makan, atau kontka langsung dari lesi/luka di kulit. Demam disertai pileks bisa merupakan gejala difteri, namun harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter untuk menemukan tanda dan gejala difteri lainnya. Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) bagian atas berupa bersin, hidung tersumbat/berair, adanya nyeri tenggorok, nyeri menelan, demam tidak tinggi (kurang dari 38,5°C), dan ditemui adanya pseudomembrane putih/keabu-abuan/kehitaman di tonsil, faring, atau laring yang tidak mudah lepas, serta berdarah apabila diangkat. Pada kondisi yang lebih berat ditandai dengan kesulitan menelan, sesak nafas, stridor dan pembengkakan leher yang tampak seperti leher sapi (bullneck). Kematian biasanya terjadi karena obstruksi/sumbatan jalan nafas, kerusakan otot jantung, serta kelainan susunan saraf pusat dan ginjal

Pencegahannya terus bagaimana ?

Pencegahan penularan/menghentikan transmisi difteri dapat dilakukan dengan, pemberian profilaksis terhadap kontak dan karier, tata laksana kasus yang dirawat di Rumah Sakit dengan menerapan prinsip kewaspadaan standar seperti kebersihan tangan, penempatan kasus di ruang isolasi, dan mengurangi kontak kasus dengan orang lain.

 

Apakah sampai saat ini sudah ada kasus yang di temukan di rujuk ke RSUD Muntilan.

Sampai saat ini belum ada kasus penyakit difteri maupun suspek/terduga difteri yang ditemukan/dirujuk oleh Puskesmas di RSUD Muntilan. Penanganan penyakit difteri adalah, Semua kasus difteri dirujuk ke Rumah Sakit dan dirawat di ruang isolasi, Pengambilan spesimen untuk dilakukan pemeriksan kultur atau PCR, Pemberian profilaks untuk kontak dan karier disamping Melakukan komunikasi risiko kepada keluarga dan pengunjung RS.

 

Jika yang menderita  seorang bayi bagaimana?

Bayi yang apabila menderita difteri tetap harus disusi oleh ibunya apabila memungkinkan dengan ketentuan ibunya harus dipastikan sudah menerapkan langkah-langkah pencegahan penularan. Penyakit difteri dapat dicegah dengan imunisasi lengkap dengan jadwal pemberian sesuai usia semisal, Usia 2, 3, dan 4 bulan diberikan imunisasi dasar vaksin DPT-Hib dengan interval 1 bulan, Usia 18 bulan vaksin DPT-HB-Hib 1 kali, Usia sekolah dasar kelas 1 vaksin DT pada saat Bulan imunisasi Anak  Sekolah (BIAS), Usia sekolah dasar kelas 2 dan 5 vaksin Td pada bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), Wanita Usia Subur (WUS) termasuk wanita hamil vaksin Td.

 

Lalu gejala awal Difteri berupa apa?

Gejala awal difteri dapat berupa gejala ISPA (flu, bersin, hidung tersumbat), nyeri tenggorok, nyeri menelan, dan demam. Sakit tenggorok yang disertai suara serak dan batuk bisa saja merupakan gejala difteri, namun harus dilakukan pemeriksan lanjutan oleh dokter untuk menemukan adanya tanda dan gejala difteri lainnya. Perbedaan difteri dengan radang tenggorok adalah pada radang tenggorok tidak ditemukan tanda dan gejala difteri selain tanda dan gejala radang tenggorok berupa nyeri tenggorok, suara serak, demam. Bagi anak yang tidak mendapatkan vaksin difteri dampaknya adalah anak bisa terkena difteri karena tidak punya perlindungan/kekebalan terhadap difteri yang bisa didapatkan dari imunisasi lengkap. Pemberian imunisasi difteri perlu diulang sesuai dengan jadwal pemberian pada usia seperti tersebut diatas. Manfaat pemberian imunisasi difteri adalah memberikan perlindungan kepada anak dari penyakit difteri.

Jika dilakukan imunisasi apakah ada efek samping?

Efek samping imunisasi difteri biasanya ringan dan tidak perlu khawatir karena merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam 1-2 hari , diantaranya, Rasa sakit/kemerahan ditempat bekas suntikan, Bengkak di area suntikan, Demam dan anak agak rewel.

Terkait dengan semua itu Langkah-langkah yang sudah ditempuh oleh RSUD Muntilan dalam penanganan penyakit difteri ?Menemukan kasus suspek/terduga difteri melalui pemeriksaan oleh dokter di Poliklinik rawat jalan maupun di rawat inap. Menyediakan ruang isolasi untuk perawatan kasus difteri, Menyiapkan logistik alat pelindung diri (APD) berupa masker, penutup kepala, sarung tangan dan gaun, Menyiapkan obat-obatan, Selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas.

Harapan terhadap penanganan penyakit difteri

Semoga tidak ada kasus difteri di Kabupaten Magelang dan apabila ada kasus yang dicurigai dengan tanda dan gejala seperti difteri agar segera dirujuk ke Rumah Sakit. Penemuan dini dan kecepatan untuk mendapatkan penanganan di rumah Sakit akan sangat mempengaruhi keberhasilan pengobatan. Semua orang tua agar sadar terhadap pentingnya imunisasi dan mau mengimunisasi anaknya sehingga tidak ada anak yang tidak diimunisasi khususnya di wilayah Kabupaten Magelang.***)Widodo Anwari