A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

Fitrah Perempuan Tetap Menjadi Makmum Bagi Suami

Widodo Anwari Bagian Humas dan Protokol

Bincang-Bincang dengan Ny. Tanty Zaenal Arifin, SE
“Fitrah Perempuan Tetap Menjadi Makmum Bagi Suami”

Pertanyaan sederhana sebagai pembuka, Apa yang terbayang di pikiran kita saat mendengar kata “Kartini” atau saat merayakan hari Kartini? Jawabannya pasti: EMANSIPASI WANITA. Dua kata ini seakan sangat powerful bagi wanita-wanita Indonesia untuk meminta persamaan hak seperti yang didapatkan oleh laki-laki. Lalu siapakah Kartini itu? Apa sebenarnya emansipasi wanita yang dia perjuangkan? Dan apa hubungannya dengan kehidupan wanita Indonesia sekarang ini yang biasa disebut dengan “Kartini modern abad 21”? Nah dalam kesempatan ini “Wartawan SG”  Widodo Anwari, berhasil menemui salah satu Kartini Modern abad 21. Dialah Ny. Christanty Handayani, SE atau lebih dikenal dengan Ny. Tanty Zaenal Arifin, Istri Orang nomor satu (1) di Kabupaten Magelang, Bupati Zaenal Arifin, SIP. Orangnya sederhana, santun, tetapi tangkas dan cerdas didalam menjawab berbagai pertanyaan seputar kiprah Perempuan di Kabupaten  Magelang. 
Terlahir di  sebuah desa kecil, tepatnya  di Desa Soropadan, Pringsurat, Temanggung,  tanggal 26 Juni  1976, dari keluarga sederhana, Putri dari Pasangan Suami istri Sariyanto dan Yulindyah Edyatie, seorang Karyawan Patal Secang, masa kecil hingga remaja dihabiskan di Soropadan, Pendidikannya dimulai dari SD N Soropadan II lulus tahun 89, kemudian SMPN 2 Magelang tahun 1992,  dan SMAN 1 Magelang. Selepas SMA pada tahun 1996 meneruskan Pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Kemudian selepas Kuliah Bekerja di BNI Syariah Yogyakarta, Pindah tugas lagi di BNI Syariah Semarang sampai sekarang. 
Masa kecilnya dimulai oleh kebanyakan perempuan desa seperti kebanyakan, senang bermain petak umpet, manjat pohon, permainan tradisional dakon, egrang, bermain disawah, bahkan sering membantu orang tuannya di sawah. Semua itu menjadikan seorang Christanty Handayani tangguh didalam menghadapi perkembangan jaman. 
Pada waktu di  SD N Soropadan II, tidak menyukai kegiatan-kegiatan yang bersifat hura-hura di sekolahnya, bahkan sebenarnya merasa malu saat harus tampil dimuka kelas. Namun Prestasinya, terutama akademiknya cukup menonjol jika dibandingkan dengan yang lainnya. Bahkan pernah juara I (Pertama) mengarang untuk tingkat Kabupaten Temanggung pada saat itu, suatu prestasi yang cukup membanggakan kedua orang tuannya.  
Ibu dari Muhammad Dzikraraya Arifin, dan Pathya Wisesa Arifin ini sekarang tinggal didusun Daleman RT 01/RW 01, Desa Bawang Kec. Pakis, penyuka  makanan sayur-sayuran, tahu dan tempe. Tahun 2014 sampai sekarang, menduduki jabatan sebagai ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Magelang, Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Magelang, Penasehat GOW Kabupaten Magelang, disamping juga sebagai ketua Dekranasda Kabupaten Magelang. 
Meski tergolong acaranya cukup padat, beliau mau menyempatkan diri untuk diwawancarai seputar kiprah Kartini-Kartini Jaman Modern. Ditemui di ruang pertemuan Bupati dengan didampingi oleh Ajudannya Ajeng, beliau mengemukakan tentang inovasinya/ide-idenya untuk memajukan kaum wanita/perempuan khususnya di Kabupaten Magelang. Bagaimana ceritannya, ikuti perbincangan kami dengan beliau, yang kami rangkum dalam dialog santai, kurang dan lebihnya. Tersaji Khusus untuk pembaca “SG” dimanapaun anda berada. Berikut petikan wawancaranya yang tersaji dalam edisi khusus tentang “Kartini”, selamat menikmati.
Bagaimana menurut ibu perempuan jaman dahulu dan jaman sekarang?
Perempuan jaman dahulu itu tidak seluas jaman sekarang jika dilihat dari segi pendidikannya, karena mindset orang tua jaman dahulu itu, seorang perempuan cukup SD (Sekolah Dasar) saja. Namun jaman sekarang sangat berubah, dukungan orang tua terhadap anaknya sangat besar untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Namun jika dilihat dari peran dan fungsinya perempuan jaman dahulu dan jaman sekarang tidak berubah, dikarenakan perempuan mempunyai tiga fungsi utama yakni, perempuan sebagai ibu rumah tangga/ ibunya anak-anak, perempuan berfungsi sebagai istri sekaligus pendamping suami, perempuan berfungsi sebagai pilar kemajuan bangsa dan negara. Akan tetapi jika dilihat dari sisi perkembangan jaman, tantangan yang dihadapi perempuan jaman sekarang lebih beragam dibandingkan perempuan jaman dahulu. Yang membedakan bahwa pada jaman dahulu karakternya itu kuat, artinya seorang perempuan bisa kokoh pada jamanya, meski dahulu perekonomian belum semapan, atau kondisi keamanan belum terjamin. Namun perempuan zaman dahulu mau memahami dan tidak mengeluh dengan kondisi pada waktu itu. Ada keistimewaan, bahwa jaman dahulu itu seorang perempuan masih mempunyai karakter yang kuat tentang budaya baik “Unggah-ungguh” maupun kesopanannya sangat kuat. 
Mengenai Dunia Pendidikan terutama  perempuan di Kabupaten Magelang ?
Inspirasi besar dari seorang Kartini, adalah perempuan itu harus cerdas, terampil dan kuat menghadapi tantangan jaman. Bukan hanya trampil pada bidang kewanitaanya, namun juga harus cerdas dalam bidang keintlektualitasnya. Ini sangat mengilhami kita senbagi perempuan di Indonesia. Sementara kesempatan perempuan memperoleh pendidikan saat ini sudah sedemikan luasnya sehingga perempuan dapat mengembangkan potensi diri secara optimal. Sebaiknya perempuan harus dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperoleh masa depan yang lebih baik karena dikeluarga perempuan merupakan guru pertama untuk anak-anaknya. Ingat bahwa Perempuan adalah juga seorang “Ibu” bagi keluarga ataupun anak-anaknya. Ibu yang selalu melindungi, menyayangi, sekaligus sebagai peneduh bagi keluarga tersebut, termasuk juga bagi suami. Ini yang penting untuk kita lakukan. Bahkan pendidikan yang pertama dikenalkan adalah pendidikan dari keluarga, dari  seorang Ibu, Suami, terus Masyarakat, baru pendidikan formal yang ada. Di Kabupaten Magelang sendiri, sudah cukup pendidikan formalnya. Bahkan peran PAUD, PKK ataupun GOW kita libatkan didalam mendidik perempuan. Didalam keikutsertaan perempuan dalam dunia pendidikan. Semua diberikan kesempatan yang sama, tidak ada perbedaan Gender. Bahkan kami sadar bahwa Kabupaten Magelang itu sangat luas, sehingga mungkin ada daerah yang belum tersentuh, baik lewat beberapa program yang dilakukan oleh PAUD, GOW ataupun PKK, kami tetap berusaha untuk menjangkaunya. Semua itu kami lakukan demi kebaikan Perempuan di Kabupaten Magelang ini. 
Gender menurut ibu, Apa sudah sesuai dengan fitrah sebagai seorang perempuan?
Menurut saya Gender merupakan persamaan hak dan  pembagian peran yang seimbang antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang . Ya, secara umum sudah sesuai dengan fitrah perempuan, namun tidak dipungkiri terjadi kasus kasus yang kurang sesuai seperti keadaan dimana suami tidak berperan dalam kegiatan domestik rumah tangga dan istri tidak diberi kesempatan dalam berkarir secara mandiri. Kasus lain yang dialami suami,  merasa minder karena dominan istri dalam mendukung perekonomian keluarga. Tetapi semua itu berpulang kepada “mindset”  kita masing-masing, bagaimana dalam keluarga itu kita arahkan. Dan perlu disadari bahwa seberapa dominan perempuan di dalam keluarga, kita harus sadar bahwa “Kita adalah Makmum bagi seorang suami, Begitu juga seorang Suami itu adalah merupakan Imam bagi kita” itu penting. Kita juga harus bisa memberikan suri tauladan bagi anak-anak kita tentang kepatuhan kepada ayahnya, kepada kedua orang tuannya. Sehingga keharmonisan rumah tangga itu yang paling utama, dan menjadi tujuan bagi kebahagian yang paling hakiki. Jangan sampai kita yang paling dominan, dalam rumah tangga. 
Kendala yang dihadapi perempuan sekarang?
Kendala yang dihadapi perempuan sekarang adalah bagaimana seorang perempuan bisa mengembangkan potensi dirinya tanpa meninggalkan kodratnya. Sebab jangan sampai kita berkembang pesat, namun tidak sesuai dengan kodrat sebagai sebagai seorang perempuan, sebagai seorang Istri bagi suami, sebagai seorang Ibu bagi anak-anaknya. Sehingga seorang perempuan itu bisa menjadi penyejuk bagi keluarga, bagi semuanya. Meski kita sadar untuk mendapatkan yang ideal semacam itu khan sangat sulit. Tetapi semua itu kita harus kembalikan ke agamanya, kita kembalikan ke rule-nya. 
Pesan ibu terhadap perempuan jaman sekarang?
Yang pasti dan perlu diingat oleh perempuan sekarang adalah setinggi-tingginya kita mencapai satu prestasi, baik dalam birokrasi, legislatif ataupun bidang-bidang yang lain. Jangan pernah melupakan kodrat sebagai seorang ibu. Karena seorang ibu adalah merupakan Guru yang pertama kali bagi putra-putrinya dalam keluarga kita. Ibu yang mampu mengayomi melindungi sekaligus sebagai peneduh bagi keluarga. Perempuan Magelang harus selalu belajar dan belajar, jangan patah semangat, ada ungkapan belajar itu “Long live learning” .....Selamat Hari Kartini!!!! ***) Widodo Anwari Humas dan Protokol Setda Kab. Magelang.