A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

HALAL BI HALAL PERSATUAN HARI BESAR ISLAM (PHBI) DUSUN DEPOK DESA SIDOMAJU KEC. TEGALREJO

WIDODO ANWARI, S.Sos Bagian Humas dan Protokol

Ada tiga pelajaran penting yang bisa kita petik dari kegiatan Halal Bi Halal yang sedang kita hadiri saat ini adalah :

Pelajaran Pertama adalah pembersihan diri dari segala bentuk kesalahan. Ibarat pemudik yang pulang ke kampung halamannya setelah sekian tahun merantau ke negeri seberang. Dalam perjalanan itu tidak sedikit ia isi dengan kesalahan, seperti lupa sholat, lalai menunaikan janji setia kepada Allah, lupa berdzikir, bersikap angkuh atau berlaku aniaya kepada diri sendiri.

Dan pada hari nan fitri itu kita “mudik” kepada Allah. Kembali kepada-Nya dengan membawa proposal berisi rintihan permohonan ampun atas salah dan dosa yang telah kita perbuat. Halal bi Halal menggiring kita untuk kembali ke kampung halaman yang sesungguhnya yaitu kembali kepada ampunan Allah yang sangat luas.

Itulah makna hakiki dari kalimat Minal A`idhin wal Faizin yang artinya “Semoga kita kembali kepada fitrah dan menang melawan hawa nafsu.” Kembali kepada jati diri yang suci seperti bayi yang baru lahir ke muka bumi. Bersih, bening dan penuh ketulusan.

Pelajaran kedua dari Halal bi Halal adalah membersihkan hati dari rasa benci kepada sesama.

Dahulu Nabi Muhammad SAW ketika tengah duduk-duduk dengan para sahabatnya, ada seorang pria asing berjalan di hadapan mereka. Orang itu berjalan lalu pergi entah ke mana. Setelah pria asing itu berlalu, Rasulullah berkata kepada para sahabat, “Dialah ahli surga.” Kalimat itu beliau ucapkan sampai tiga kali.

Pria itu tidak punya ilmu dan harta yang bisa disedekahkan. Dia hanya punya rasa cinta kepada Allah, Rasulullah dan sesama manusia. 

Dan ternyata setiap malam menjelang tidur, dia selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu sekaligus berusaha menghilangkan rasa benci terhadap siapa saja.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini adalah terkadang karena persaingan bisnis atau persaingan di tempat kerja terbersit rasa dengki, dendam dan iri hati.

Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini mari kita singkirkan penyakit-penyakit pengotor hati itu dalam dengan momentum Halal bi Halal. Tidak ada lagi kedengkian. Kita ganti dengan kelapangan jiwa. Kita obati kesombongan dengan kerendah-hatian. Kita buang permusuhan dan kita isi dengan persaudaraan.Pelajaran ketiga adalah memupuk kepedulian dan kebersamaan. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari pergaulan dan kebersamaan yang dibangun lewat sikap tolong-menolong. Muslim yang kaya membantu saudaranya yang miskin. Sepatutnya rasa gembira seseorang juga memberikan bentuk kenikmatan yang lain, yaitu kenikmatan bersyukur dengan berupaya membagi kebahagiaan itu kepada sesamanya.

Kini saatnya, setiap Muslim membumikan berkah-berkah kesalehan Ramadhan dengan menebar rasa bahagia ke setiap orang, memupuknya, merawat dan menjaga agar mendapatkan buah indahnya ikatan persaudaraan. ***Widodo Anwari, S.Sos