A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

keris di negeri kelahirannya belum mendapat pengakuan proporsional

bagian humas Bagian Humas dan Protokol


Borobudur (humprot) - Berbicara tosan aji maka tidak bisa lepas dari keberadaan sebuah keris sebagai warisan nenek moyang kita di mana saat ini keris telah menjadi hasil karya anak bangsa yang diakui oleh UNESCO, sebagai warisan budaya  yang adi luhung. Selain dari sisi tampilan keris, dapat dilihat nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya yang tercermin dari pamor tosan aji tersebut.

Saat membuka acara pameran dan sarasehan tosan aji di pendopo mandala wisata TIC Borobudur, selasa (3/11) Bupati Magelang Zaenal Arifin, S.IP melalui Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang mengatakan pusaka-pusaka para leluhur kita pernah mencapai kejayaan pada masanya, yang selanjutnya akan muncul harapan agar generasi penerus kita dapat terinspirasi untuk meraih kembali kejayaan bangsa di era global ini, sehingga pada akhirnya kita akan memiliki rasa bangga terhadap tanah air tercinta Indonesia. 
Zaenal menambahkan,  bahwa perkembangan  fungsi Tosan Aji yang semula sebagai senjata tikam untuk melindungi diri dari ancaman musuh, pada saat ini sudah berkembang tidak lagi menjadi senjata untuk bertarung namun lebih sebagai koleksi pribadi dan pelengkap busana adat Jawa.

Narasumber KRT Projo Kardono dari Pametriwiji Yogyakarta menerangkan keris yang merupakan warisan dunia, ironisnya di negeri kelahirannya tidak mendapatkan pengakuan yang proporsional. Hal ini disebabkan banyak yang tidak tahu tentang apa itu keris. Bahwa sarasehan ini memberikan satu wacana kepada publik pentingnya keris bagi budaya masyarakat Indonesia terutama budaya jawa. Pengembangan keris sampai Pajajaran, Majapahit, Blambangan, ke seluruh pelosok nusantara  hingga menyebar sampai Midanao Filipina. Hal tersebut dikembangkan oleh nenek moyang kita  karena merupakan bangsa maritim. 

Sedangkan Ketua Satriyatama (Satuhu Memetri Budaya Tosan Aji Magelang) Ahmad Sofyan mengatakan pada kenyataannya di daerah kabupaten magelang banyak yang mempunyai pusaka-pusaka di lingkungannya. Kemungkinan agak segan mempunyai pusaka karena ada image dari masyarakat yang masih merugikan (adanya anggapan pecinta keris adalah pecinta mistik).  Salah satu dari kegiatan ini supaya kesan-kesan semacam itu sedikit-demi sedikit bisa hilang, sehingga budaya bangsa yang memang adiluhung bisa berkembang, dilestarikan dan tidak punah karena ada anggapan yang keliru. 

Kegiatan pameran dan sarasehan tosan aji dilaksanakan selama 2 hari (3-4/11) dan diikuti 80 orang peserta terdiri dari Permadani Kab Magelang, Satriyatama, budayawan, seniman dan pecinta tosan aji Jawa Tengah dan DIY.