A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

orang jawa "lali" dengan Budayanya

WIDODO ANWARI Bagian Humas dan Protokol

Orang Jawa “lali” dengan Budayanya.

Kota Mungkid, 20 Desember 2017

Sejak berkembangnya kemajuan teknologi dan informasi di Indonesia mengakibatkan begitu cepatnya arus kebudayaan yang masuk ke Indonesia. Banyak juga kebudayaan asing yang mulai berdatangan di tanah Jawa. Baik lewat tayangan televisi, internet dan lain-lain. Ada yang baik karena mengajarakan modernisasi yang lebih rasional dan masuk akal. Demikian dikatakan oleh Penasehat PERMADANI  Ir. Wiyoto, dalam sarasehan Budaya yang digelar dalam rangka Dwi Windu Permadani Kabupaten Magelang, yang dilaksanakan di Pendopo Merapi Rumah Dinas Bupati Magelang, yang diikuti oleh Alumni  PERMADANI Kabupaten dan Kota Magelang.(21/12)

“Namun ada pula yang mengajarkan sesuatu yang kita anggap tabu di masa lalu namun kita semakin menikmatinya sebagai gaya hidup modern. Kita seolah terbuai dengan kebebasan yang ditawarkan kebudayaan luar. Mungkin masyarakat tidak mau dikekang lagi oleh budaya yang selalu menonjolkan aspek nilai-nilai yang luhur. Harus diakui, semakin dikekang seseorang, maka semakin keras usaha seseorang untuk keluar dari kekangan itu. Mugkin inilah yang sedang dilakukan generasi muda saat ini.”Ujarnya dengan memakai Bahasa Jawa Halus.

Dikatakan pula oleh Ir. Wiyoto bahwa pergeseran nilai-nilai budaya sudah dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa yang halus dan punya nilai filisofis tinggi misalnya, kini mulai ditinggalkan masyarakat. Kebanyakan orang tua lebih senang memasukkan anak mereka ke dalam lembaga pendidikan bahasa Inggris daripada bahasa Jawa. Bahasa Jawa dianggap kuno. Sedangkan Bahasa Inggris lebih fleksibel dan dapat digunakan dimana saja. Bayangkan jika tak ada lagi yang mau belajar bahasa Jawa, tinggal menunggu waktu saja  kita akan melupakan bahasa Jawa. Untuk itu seharusnya kita melestarikan bahasa Jawa agar tidak hilang ditelan zaman.

Jika terus seperti ini bukan tidak mungkin akan kehilangan kebudayaan dan tradisi Jawa. Budaya yang telah lama melekat pada kepercayaan ini bisa saja punah kelak. Generasi muda yang kini lebih berfikir realistis dan tidak percaya kepada hal-hal yang mistis dan lebih senang pada gaya hidup modern.Akan lebih baik jika memahami segala budaya yang diwariskan nenek moyang, agar dapat menyaring kebudayaan asing yang semakin menjarah perilaku berbudaya.

“Boleh kita mengadopsi budaya dari luar negeri, namun hendaknya yang sesuai dengan karakteristik budaya bangsa kita. Karena dengan dasar budaya Indonesia yang luhur dan bernilai tinggi kita bisa menjadi bangsa yang modern namun santun dan berbudaya. Dan tentunya masih berpegang teguh kepada kepercayaan yang kita anut.” Tandasnya.

Sementara Bupati Magelang dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Plt. Kepala Disdikbud Drs. Haryono, MPd. Mengatakan bahwa sebagai masyarakat Jawa perlu merasa bangga dengan keberadaan Bahasa jawa dan kebudayaanya.

“Masih banyak nilai-nilai yang dapat kita ambil dari warisan budaya nenek moyang kita. Sayangnya banyak yang telah mengabaikannya dan tidak lagi peduli. Meskipun begitu kita harus tetap bangga menjadi suatu bagian dari bangsa Indonesia dengan berjuta tradisi yang bernilai tinggi. Kita hendaknya selalu melestarikan budaya luhur yang diwariskan nenek moyang kita. Daripada kita meniru budaya asing yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa, alangkah baiknya kalau kita berpegang pada warisan budaya Indonesia.” Ujar Bupati Magelang, Zaenal Arifin, SIP.

Dilain sisi dr. Wigung Wratsangka, dari Yogyakarta mengatakan bahwa budaya  Jawa, khususnya Surakarta dan Yogyakarta, tidak bisa dilepaskan dari Kraton sebagai pusat budaya Jawa. Karya seni Jawa baik sastra, gamelan, tari dan wayang adalah bentuk ekspresi budaya yang dikembangkan oleh raja-raja dan seniman atau pujangga Kraton Solo dan Yogya. Pada mulanya karya seni itu merupakan klangenan (hiburan) yang terbatas dinikmati kalangan kraton. alam perkembangannya, karya seni ini kemudian dipentaskan sebagai produksi seni pertunjukan bagi rakyat biasa. 

“Seni tradisional Jawa yang telah menjadi identitas yang dilakoni dan dihidupi oleh orang Jawa selama bertahun-tahun itu saat ini mengalami erosi akibat kuatnya pengaruh budaya Barat yang disebarkan melalui  tehnologi media seperti film dan televisi.  Anak-anak muda jaman sekarang lebih menyukai tari, lagu dan musik Barat ketimbang seni tradisional. Mereka lebih memilih mempelajari seni musik Barat daripada belajar karya seni tradisi. Karya seni Barat terkesan  modern dan lebih bergengsi, juga lebih ekspresif, spontan dan energik sehingga dirasa lebih pas dengan gejolak jiwa muda .” tandasnya. ***) Widodo Anwari Humas dan Protokol.