A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

PENGAJIAN DAN DOA BERSAMA DALAM RANGKA APEL SIAGA PENANGGULANGAN BENCANA TINGKAT KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2019

WIDODO ANWARI, S.Sos Bagian Humas dan Protokol

Gunung Merapi saat ini pada tingkat Waspada Level II dan status ini mengharuskan kita untuk senantiasa waspada terhadap berbagai kemungkinan. Meskipun begitu, kita sebagai makhluk beriman senantiasa memohon kepada Illahi Robbi agar Merapi bisa kembali pada level normal kembali.

Berbicara tentang Gunung Merapi, tentu tidak akan kita lupakan, bahwa letusan terakhir pada bulan Oktober sampai Nopember Tahun 2010 yang lalu telah menyadarkan kita semua, bahwa skenario mitigasi bencana yang kita miliki masih jauh dari sempurna. Gladi tanggap bencana terhadap masyarakat telah berulang kali dilakukan, namun gladi bagi aparat kiranya masih perlu ditingkatkan.

Ketika kita mempersiapkan skenario mitigasi bencana erupsi Gunung Merapi untuk siklus 4-5 tahunan, ternyata yang terjadi adalah letusan yang disebut sebagai siklus 40 tahunan. Letusan yang jauh lebih dahsyat dengan arah yang tidak dapat diperkirakan.

Hal inilah yang membuat kita semua harus bertindak cermat dan tepat dalam menata kawasan rawan bencana yang sekaligus menyimpan potensi yang luar biasa. Keselamatan jiwa masyarakat harus dikedepankan, sementara hak warga untuk memenuhi hajat hidupnya juga tidak boleh diabaikan. Di satu sisi yang lain, Kabupaten Magelang yang masyarakatnya religius maka pendekatan keagamaan dalam pengarusutamaan pengurangan risiko bencana menjadi sangat penting dan strategis, di mana hal ini didukung dengan kondisi sosio-kultural masyarakat Kabupaten Magelang secara umum, yang menghormati tokoh agama serta menjadikannya guru dan panutan dalam pendidikan beragama serta bermasyarakat.

Oleh karena itu saya melihat bahwa peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun 2019 ini yang mengangkat tema “Perempuan Sebagai Guru Kesiapsiagaan dan Rumah Sebagai Sekolahnya” menjadi satu tema yang sangat tepat.

Makna dari tema ini adalah selain pentingnya pendidikan dini, maka Perempuan dan Ibu dipilih karena memiliki sifat melindungi, aktif dalam kelompok sosial dan komunitas dan juga merupakan sosok pembelajar.

Hal tersebut tidak bisa lepas karena selama ini kita mengetahui bahwa perempuan termasuk salah satu kelompok yang paling banyak menjadi korban bencana karena kurang pemahamannya akan risiko dan besarnya keinginan mereka untuk menolong keluarganya, namun belum memiliki kapasitas yang memadai. Sehingga, melibatkan kaum perempuan dan para Ibu sudah menjadi satu hal yang wajib dilakukan pada bidang mitigasi bencana.

Untuk itu pada kesempatan ini saya mengapresiasi acara Apel Siaga yang dikemas dalam bentuk pengajian dan doa bersama ini sebagai salah satu ikhtiar kita dalam bermunajat dan memohon kepada Allah SWT agar situasi dan kondisi di wilayah Kabupaten Magelang tetap aman, tenteram dan jauh dari berbagai bala bencana. Amin.

Selanjutnya kami berpesan kepada aparat serta para tokoh masyarakat dan relawan, agar bisa membekali diri sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, serta giat berlatih secara rutin dan terencana, sehingga dapat menjadi ujung tombak dalam penanganan bencana di Kabupaten Magelang, siap melakukan penanganan bencana secara komprehensif dan terpadu baik fisik maupun non fisik sebelum terjadi bencana, saat tanggap darurat dan pada tahap pasca bencana. ***)Widodo Anwari,S.Sos