A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

Protes DLP, 70 Dokter Aksi Damai Duduki DPRD Kabupaten Magelang

Widodo Anwari Bagian Humas dan Protokol

 

Puluhan dokter  Magelang baik dokter umum dan dokter spesialis mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Magelang, di gedung DPRD lantai 2, Kota Mungkid. Sejumlah dokter yang terikat di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Magelang melakukan aksi damai.

70 dokter tersebut memprotes tentang program studi Dokter Layanan Primer (DLP). IDI Cabang Magelang menilai DLP ibarat menutup asap tanpa penanganan yang tepat.

"Permasalahan kesehatan terkait JKN (Jaminan Kesehatan Nasional-red) bukan hanya terjadi di layanan primer saja. Termasuk di rumah sakit sekunder maupun tersier," kata dr Hary Sasongko, Sp. OG, Ketua  IDI Cabang Magelang, Senin (24/10/2016).

Hary sasongko, menilai DLP menjadikan masalah baru karena menghambur-hamburkan uang negara. Selain itu tidak menghargai kompetensi dokter yang selama ini telah ada di masyarakat.

"Konflik horizontal antara dokter DLP maupun dokter non DLP pada ranah pelayanan primer. Yang jelas juga merugikan masyarakat," katanya.

Menurutnya, pihaknya sepakat untuk memilih aksi damai sebagai peringatan karena isu DLP belum menemukan solusi. ’’Kami ingin masyarakat tahu bahwa rencana pemerintah terkait DLP ini salah kaprah. Seakan-akan menambah beban bagi dokter namun tak memperbaiki kinerja,’’ terangnya

Dia menegaskan, pendidikan DLP yang digembor-gemborkan setara dengan pendidikan spesialis justru menghamburkan uang dan waktu dokter.

Hanya untuk menguasai beberapa modul tambahan, peserta harus mengeluarkan Rp 300 juta per tahun. Selain itu, mahasiswa pun harus melepaskan pekerjaannya karena lembaga yang menyediakan hanya hanyalah 17 Fakultas Kedokteran.

’’Kalau dibandingkan dengan program P2KB (Program Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan) dari IDI sudah jelas beda. Hanya habis Rp 1 juta per modul yang bisa diambil di 430 Cabang. Modul pun disesuaikan dengan apa yang diperlukan di daerah tugas mereka,’’ ungkapnya.

Terkait tuduhan pemerintah bahwa kualitas dokter umum rendah karena sering merujuk, Sasongko menjelaskan bahwa rujukan yang banyak itu disebabkan oleh banyak faktor.

Pertama, obat dan alat kesehatan yang seringkali tidak tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).

Kedua, masih belum meratanya distribusi dokter yang membuat dokter tak punya banyak waktu untuk melakukan pemeriksaan.

’’Kalau misalnya dokter diberi waktu kurang dari 10 menit untuk melakukan konsultasi karena terlalu banyak pasien menunggu, otomatis mereka merujuk kasus-kasus yang dikira tidak bisa ditangani,’’ ungkapnya.

Dokter Harry Sasongko  berharap perjuangan IDI Cabang Magelang tidak sampai disini. Dia berharap DPRD Kabupaten Magelang  menyampaikan ke Kemenkes.

Dalam kesempatan tersebut para dokter diterima secara langsung oleh Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Saryan Adiyanto, SE yang didampingi oleh Wakil Ketua DPRD Drs. Soeharno di Ruang pertemuan DPRD Kabupaten Magelang.

Dalam pertemuan itu Saryan adi yanto, SE akan meneruskan keberatan dari dokter tersebut untuk diteruskan kepihak-pihak yang terkait. **)Widodo Anwari.