A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

Syawalan Dan Halal Bihalal Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kec. Ngablak

Widodo Anwari Bagian Humas dan Protokol

Ngablak, 19 Juli 2017
Dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan, selanjutnya kita memasuki bulan Syawwal yang merupakan fase bagi implementasi dari meningkatnya ketakwaan kita.
Syawwal sendiri sering didefinisikan sebagai bulan peningkatan. Untuk itu serangkaian ibadah dan amal kebajikan, yang telah kita kerjakan selama bulan suci Ramadhan yang lalu, hendaknya dilestarikan dan lebih ditingkatkan lagi pada bulan Syawwal ini.      
Ada banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari pelaksanaan ibadah di bulan suci Ramadhan. Salah satunya adalah bahwa,   puasa tidak hanya dapat membentuk pribadi seseorang menjadi saleh secara ritual semata, namun lebih daripada itu, puasa dapat membentuk manusia menjadi saleh secara sosial.
Untuk itu seiring dengan berakhirnya Ramadhan dan datangnya bulan Syawwal ini, diharapkan akan lahir umat-umat yang semakin bertaqwa dan semakin meningkat kesadaran sosialnya.
Harapan tersebut rasanya tidak berlebihan, mengingat hingga saat ini sebagian masyarakat Kabupaten Magelang, masih ada yang membutuhkan uluran tangan kita, agar mereka juga bisa merasakan kebahagiaan seperti yang kita rasakan saat ini.
 Kesalehan sosial tersebut diharapkan juga dapat tercermin dari sikap hidup yang mampu dan ikhlas menerima perbedaan, dan tidak menganggap diri-sendiri dan kelompoknya sebagai yang paling benar. 
Hal ini perlu kami tekankan mengingat bangsa Indonesia pada umumnya, dan juga masyarakat Kabupaten Magelang pada khususnya, merupakan masyarakat yang heterogen, sehingga potensi ketidakharmonisan antar komponen masyarakat bisa saja terjadi, kalau setiap perbedaan tidak disikapi secara dewasa.
Tradisi Syawalan di Indonesia  merupakan terobosan akulturasi antara budaya Jawa dan ajaran Islam. Kearifan para ulama di pulau Jawa ini, mampu memadukan kedua unsur tersebut,  dengan menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan kasih sayang. 
Hikmah yang paling utama dari pelaksanaan halal bi halal atau syawalan seperti yang sedang kita adakan ini adalah upaya kita untuk menyambung kembali tali kasih sayang, meluruskan benang yang kusut, dan menghangatkan hubungan yang beku sehingga bisa cair kembali.
Hal tersebut perlu kita upayakan bersama karena pada kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari salah dan dosa. Karena itu perlu suatu langkah dan upaya untuk mengembalikan kembali pada suasana fitri kembali, karena kita sadari bersama, bahwa salah satu dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah melakukan kesalahan terhadap sesamanya. 
Karena itulah, Idul Fitri merupakan momen paling tepat untuk saling memaafkan atas semua kesalahan dan kekhilafan yang telah kita lakukan, baik kesalahan yang kita sengaja maupun yang tidak.  ***) Widodo Anwari Humas Dan Protokol Setda Kabupaten Magelang.