A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/setda/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/setda/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/setda/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/setda/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

Target Wisatawan Mancanegara berkunjung ke Borobudur 2 Juta orang

Bagian Humas dan Protokol Bagian Humas dan Protokol

Kota Mungkid, 3 Maret 2016
Borobudur sebagai warisan dunia yang dimiliki bangsa Indonesia dan masyarakat Magelang di Provinsi Jawa Tengah khususnya telah dikenal luas sebagai daya tarik wisata dunia.Telah banyak perhatian pemerintah bahkan lembaga dunia yang concern menaruh kepedulian guna mendorong Borobudur sebagai entitas  pariwisata budaya yang diharapkan memberikan dampak berkelanjutan secara positif bagi nilai produk budaya itu sendiri sekaligus bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Demikian dikatakan oleh Bupati Magelang dalam Pembukaan Sosialisasi DMO Kepariwisataan se KabupatenMagelang.
“Harapan saya, angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang hingga akhir tahun 2019 ditarget Pemerintah mencapai 2 juta di Borobudur dan sekitarnya, multiplier effectnya secara positif betul-betul dapat dirasakan warga di sekitar objek ternama ini sekaligus semakin memperluas dan meningkatkan kualitas infrastruktur dan juga fasilitas kepariwisataan berstandar internasional. Harapan ini menjadi penekanan saya pada forum yang sangat mulia ini sekaligus menggaris bawahi apa yang masih dapat kita ingat dari hasil kunjungan Presiden Jokowi di Borobudur, tanggal 29 Januari 2015 yang lalu,” Ujar Bupati Magelang saat memberikan sambutan dihadapan sosialisasi di Hotel Genthongasri Borobudur
Beberapa catatan yang diberikan Presiden atas destinasi Borobudur, yaitu Borobudur akan dikembangkan sebagai destinasi utama bertaraf internasional, pemerintahakanmembentukBadanOtorita yang akanmengelolacandisecaraterintegrasi, dan menegaskan branding Borobudur sebagai“MahakaryaBudayaDunia”, (Borobudur World Cultural Masterpiece). Bapak Ibu Saudara, yang saya hormati, tentunya saja upaya serius pemerintah ini harus secara cermat, seksama serta cerdas agar dapat kita terjemahkan dan dijalankan secara bijak dan konsisten. Hal ini tentu saja memerlukan komitmen sekaligus keterpaduan segenap stakeholders, baik di level pemerintah pusat, provinsi, kabupaten. Pelibatan segenap komponen baik itu pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat secara terpadu menjadi proses dan bagian penting yang tidak mungkin dihindarkan
Guna terwujudnya Borobudur sebagai destinasi yang makin berdaya saing dan berkelanjutan, menurut pandangan saya setidaknya perlu konsep pengelolaan yang patut untuk dikedepankan adalah lebih meningkatkan soliditas dan sinergitas. Lebih khusus lagi, mensinergikan tiga matra strategis guna mewujudkan Borobudur yang berkelanjutan. Ketiga matra dimaksud adalah, pertama, intergrated tourism, yang dimaksudkan agar pengembangan pariwisata seharusnya dijalankan secara terpadu, baik keterpaduan antar sektor, antar actor dan diberikan dasar bordeless approach sebagai basis pengembangan destinasi pariwisata. Matrakedua, conservation tourism, yang memberikan penekanan bahwa pengembangan pariwisata khususnya di Borobudur seyogyanya mengedepankan fungsi konservasi, yang diharapkan mampu mendorong upaya pelestarian alam ataupun budaya. Dan, tampaknya daily life masyarakat Borobudur beserta alam Menoreh yang melingkupinya sangat potensial menjadikan kawasan Borobudur sebagai kampong halaman bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara yang merindukan kebersahajaan dan otentisitas kehidupan masyarakat. Matra ketiga, dalam pengelolaan pariwisata di Borobudur yang tidak kalah penting adalah pengembangan ekonomi kreatif (creative economic), dalam konteks ini pengembangan pariwisata yang lebih mampu lagi mendorong potensi kreatif masyarakat dan wisatawan. Diharapkan dengan model ini wisatawan juga dapat aktif, dan potensi ekonomi kreatif di desa-desa sekitar Borobudur sangat memungkinkan untuk menjadikan pariwisata sebagai media kreativitas, antara wisatawan dan masyarakat selaku tuan rumah.
Salah satu isu yang perlu diperhatikan dalam rangka lebih memperkuat Borobudur sebagai destinasi Internasional, tidak bisa tidak adalah perihal pengelolaan destinasi (tatakelola). Pemerintah pusat pun secara serius telah mencoba mewujudkan sekaligus mendorong tata kelola destinasi. Sejak 2010-2014 program Tata Kelola Destinasi dijalankan, diawali di 16 destinasi pariwisata, salah satunya di Borobudur yang bersama dengan Toraja dan Kota Tua dikategorikan sebagai kluster Heritage &Budaya. Berdasarkan evaluasi tahun 2014, monevatas DMO yang telah berjalan khususnya bagi Borobudur termasuk dalam DMO yang “baik” (angka 7.00-9.99) bersama dengan destinasi Bromo, Pangandaran, Tanjung Putting dan Bunaken.
“Hal ini tentunya memberikan bukti bila upaya tata kelola destinasi menjadi kunci menghasilkan kepuasan wisatawan seiring dengan peningkatan kunjungan wisatawan yang diharapkan. Semangat kebersamaan harus terus dibina dan ditingkatkan untuk mewujud kan kualitas destinasi Borobudur, seperti yang kita dambakan bersama. Pada tahun 2014 – 2015, telah dibentuk Tim Formatur Forum Tata Kelola Pariwisata Borobudur yang merupakan pengembangan dari Kelompok Kerja Lokal, yang terdiri dari elemen masyarakat, industri, akademisi, dan pemerintah yang secara bersama berkolaborasi dalam pembangunan kepariwisataan di destinasi pariwisata untuk mencapai tujuan bersama, yang tetap menjaga otonomi dari masing-masing pemangku kepentingan. Forum Tata Kelola Pariwisata Borobudur bertujuan untuk menggalang kerjasama, komunikasi, koordinasi, sinergi sistem yang dinamis, jejaring, dan kepemimpinan dalam pengelolaan dan sistem destinasi pariwisata. Kami harapkan, Forum Tata Kelola Pariwisata Borobudur dapat menjadi media komuniasi dalam hal tata kelola pengembangan destinasi wisata,”tandasBupati.
Hadir dalam kesempatan Sosialisasi ini selain Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB), Direktur PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Perwakilan UNESCO di Indonesia, di Kabupaten Magelang, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Tengah, dan Kabupaten Magelang, Kepala Dinas dari segenap SKPD/ Organisasi Perangkat Daerah se kab. Magelang, dan juga Ketua Forum Tata Kelola Pariwisata (FTKP) Borobudur.

***) Widodo Anwari /Humas dan protocol Setda Kabupaten Magelang.